Susahnya menjadi pendengar
Betapa sukarnya kita ini menjadi pendengar yang baik. Bukankah, kita lebih suka didengar daripada mendengarkan?
Seringkali, kita merasa seperti orang bodoh karena terlalu banyak mendengar, sedangkan sebenarnya kita sudah tahu atau bahkan lebih banyak tahu dari apa yang dibicarakan oleh lawan bicara kita. Lalu, kita berusaha memotong pembicaraan dan akhirnya perdebatan pun terjadi. Ya, satu hal yang patut kita sadari adalah bahwa sifat dasar setiap manusia adalah ingin dihargai, ingin didengar, dst. Jadi betapa arif’nya apabila kita yang merasa sudah banyak tahu, mencoba untuk merendahkan diri dengan memberikan orang lain kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya, tanpa harus buru-buru memotong pembicaraan. Pembelajaran ini sangat penting supaya kita dapat ‘menjadi pendengar yang baik,’ karena begitu banyak hal positif yang kita dapat dari ‘menjadi pendengar yang baik.’ Seperti contoh: kita dapat mendapat informasi yang jelas, kita dapat menghindari konflik perdebatan dengan orang lain, dan terlebih lagi kita dapat melatih kesabaran, fokus dan ketenangan kita. Nah..., karena menjadi pendengar yang baik diperlukannya kesabaran, fokus dan ketenangan, bagi kita yang “Pandai Bicara” sudah pastinya susah untuk menjadi pendengar yang baik karena memerlukan usaha ekstra keras untuk sejenak menahan nafsu bicara kita. Oleh sebab itu berbahagialah orang tidak pandai tapi cenderung mau mendengarkan, karena memang tendensi orang yang sudah pandai biasanya tak suka ditegur dan lebih suka didengarkan. Tapi saya yakin, orang yang hidup benar-benar dalam Tuhan pasti akan berubah, sebab sepintar apapun kalau kita tidak memiliki humility (kerendahan hati) dan kasih semuanya itu, sia-sia!!

0 komentar:
Posting Komentar